Langsung ke konten utama

Jerapah yang Baik Hati


Di sebuah hutan, hiduplah sekelompok hewan yang hidup berdampingan satu sama lain. Mereka hidup secara damai dan saling bekerja sama dalam melakukan pekerjaan. Mereka dipimpin oleh seekor singa yang kuat dan gagah berani. Singa sebagai “Raja Rimba” berlaku adil kepada seluruh rakyatnya sehingga kehidupan menjadi sejahtera. Semua hewan di hutanpun sayang kepada singa sebagai raja yang bijaksana dalam menyelesaikan semua permasalahan mereka. Mereka juga ramah terhadap hewan lain yang berkunjung tempat mereka. Hewan tersebut seakan-akan berada di rumah mereka sendiri karena mereka dilayani dengan begitu baik.
            Suatu ketika datanglah seekor jerapah yang datang ke tempat mereka untuk mencari tempat tinggal. Mereka menyambut jerapah tersebut dengan sangat baik. Jerapah tersebut mereka bawa ke hadapan sang Raja untuk meminta izin agar dapat tinggal di hutan. Sang Raja menerimanya dengan lapang dada dan menunjukkan tempat tinggal untuknya. Hanya satu hal yang diminta oleh sang Raja agar ia bisa hidup berdampingan dengan hewan lain tanpa ada permusuhan. Jerapah pun merasa senang karena hewan-hewan tersebut sangat baik kepadanya.
            Setelah beberapa hari, jerapah sudah mulai terbiasa dengan hewan-hewan di hutan tersebut. ia sering bermain bersama menghabiskan waktunya dengan kancil dan hewan-hewan lainnya. Dibalik kesenangan jerapah, ternyata ada salah satu hewan yang tidak suka melihatnya berada di hutan. Kera merasa dirinya terancam karena dia sudah tidak lagi menjadi pusat perhatian hewan lainnya. Sebelum ada jerapah, kera sering diminta untuk mengambilkan buah-buahan di pohon yang cukup tinggi dan ia mendapat hewan lain memujinya. Tetapi setelah jerapah datang, ia yang diminta untuk mengambilkan buah karena memiliki leher yang panjang. Karena hal tersebut kera menjadi kesal dan ingin menyingkirkan jerapah dari hutan.
            Kera mulai menyusun rencana untuk menjebak jerapah. Setelah berpikir beberapa lama akhirnya ia menemukan ide bagaimana agar jerapah diusir dari hutan. Kera mengambil simpanan buah-buahan untuk persiapan musim gugur dan menyimpannya di rumah jerapah. Semua hewan dikumpulkan di suatu tempat dan kera mulai memfitnah jerapah bahwa ia telah mencuri buah. Awalnya semua hewan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kera. Tetapi setelah mereka melihat buah-buahan di rumah jerapah mereka semua percaya. Tak disangka, jerapah yang selama ini mereka sayangi seperti keluarga sendiri ternyata mengambil persediaan makanan untuk musim gugur. “Bukan, bukan aku!” jerapah mencoba menjelaskan kepada mereka bahwa bukan ia yang melakukannya. Sambil menitikkan air mata, jerapah dibawa kehadapan sang Raja untuk diberi hukuman. Raja menetapkan hukuman bagi jerapah agar ia pergi dari hutan tersebut dan tidak boleh kembali lagi. Kera merasa puas karena rencananya berhasil dengan sempurna dan tidak akan ada yang mengganggunya lagi.
            Setelah beberapa minggu, musim gugurpun tiba dan daun mulai berjatuhan dari po-honnya. Musim gugur berlangsung cukup lama sehingga banyak pohon yang kering dan mati karena kurangan air. Hewan-hewan memilih tetap berada di dalam rumah mereka karena di luar terasa begitu panas. Untung saja mereka masih memiliki cadangan makanan yang disimpan selama musim gugur. Namun, jika hal ini terus berlangsung akan bedampak buruk bagi hutan dan kehidupan mereka.
            Sinar matahari yang begitu panas menembus daun-daun kering dan membakarnya. Api kian membesar dan melahap apa yang ada disekitarnya. Semua hewan merasa panik melihat kejadian tersebut dan mencoba menyelamatkan diri dari kobaran api. Api semakin meluas dan menyebar ke seluruh hutan. Mereka kesulitan mencari jalan keluar karena pandangan mereka tertutupi oleh kabut asap. “apa yang harus kita lakukan?” tanya kera kebingungan. Tidak ada lagi yang dapat mereka lakukan selain mengharapkan datangnya keajaiban.
            Di seberang hutan, jerapah melihat kepungan asap tebal menyelimuti hutan tempat dulu ia tinggal. Ia ingat bahwa teman-temannya yang tinggal disitu sedang membutuhkan pertolongannya. Dengan sigap jerapah langsung pergi menuju ke hutan tersebut untuk menolong teman-temannya. “Tolong.. tolong kami!!” terdengar teriakan temannya meminta untuk diselamatkan. Tak peduli terhadap keselamatan dirinya sendiri, ia menerobos kabut asap dan panasnya api demi menyelamatkan teman-temannya. Setelah melalui perjuangan yang cukup melelahkan akhirnya jerapah berjumpa dengan teman-temannya yang sedang kebingungan. mereka merasa senang sekaligus malu dengan kedatangan jerapah yang mau menolong mereka, sedangkan mereka sudah mengusirnya dari hutan tersebut. Jerapah sudah menganggap mereka seperti keluarganya sendiri apapun yang telah mereka lakukan kepadanya. Tidak menunggu lama, dengan lehernya yang panjang jerapah menembus kabut asap dan menuntun hewan lain untuk keluar dari hutan.
            Akhirnya semua hewan dapat diselamatkan dan mereka berterima kasih kepada jerapah. Mereka ingin jerapah kembali lagi bersama mereka dan menjadi keluarga. Sedangkan kera, merasa bersalah karena telah memfitnah jerapah sampai ia diusir dari hutan. Ia meminta maaf kepada jerapah dan semua hewan serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Jerapah dengan senang hati memaafkan kera dan akhirnya mereka menjadi sahabat sejati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa perbedaan dan persamaan antara Santri, Abangan, dan Priyayi beserta contohnya

  Persamaan    Santri, Abangan, dan Priyayi adalah mereka sama-sama beragama Islam dan menyembah kepada Allah swt dan melaksanakan ibadah yang mereka yakini.   Perbedaan: Abangan Tradisi islam abangan masih sangat kental dengan kepercayaan terhadap animisme dan dinamisme. Upacara-upacara keagamaan masih sering dilakukan dalam lingkungan masyarakatnya. Mereka tahu kapan harus slametan, upacara kematian, upacara kandungan, bahkan mengetahui makana apa yang harus di persiapkan dalam pelaksanaa upaca keagamaan. [1]                                                                          ...

AQIDAH ISLAM AHLU SUNNAH WAL JAMA'AH

Ilmu Aqidah adalah ilmu yang membahas pokok-pokok agama, yaitu aqidah, tauhid dan i’tikad (keyakinan) tentang rukun iman yang enam. IMAN Iman adalah mempercayai dengan sepenuh hati, mengucapkan dengan lisan, dan melakukannya dengan perbuatan. RUKUN IMAN 1.       Iman kepada Allah SWT 2.       Iman kepada malaikat-Nya 3.       Iman kepada Kitab-kitab-Nya 4.       Iman kepada nabi dan rasul-Nya 5.       Iman kepada hari kiamat 6.       Iman kepada qadha dan qadar 1.       Iman kepada Allah Meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah adalah Tuhan yang telah menciptakan Alam semesta ini dan yang mengaturnya. Sifat-sifat Allah: 1.       Sifat Wajib 2.       Sifat Mustahil 3.       Sifat Jaiz SIFAT WAJIB DAN ...

Hubungan antara Aqidah, Ibadah, dan Akhlak

        Aqidah berasal dari bahas arab yang artinya mengikat atau mengadakan. Sedangkan menurut istilah Aqidah adalah suatu pedoman bagi mansuia untuk selalu berpegang teguh kepada agamanya. Aqidah ini sangat penting bagi manusia untuk mengarungi bahtera kehidupan yang dijalani. Manusia dapat menanamkan Aqidah pada dirinya dengan mengucapkan laa ilaaha illa Allah yang mana kalimat tersebut merupakan syarat bagi seseorang untuk bisa memeluk islam. Dalam Ahlsunnah wal jama’ah sendiri ada dua imam yang didikuti dalam hal Aqidah, yaitu Imam Hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansyur Al Maturidi.            Ibadah secara bahasa berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut istilah adalah merendahkan diri untuk mengangkan kebesaran Allah SWT. Dalam kehidupan sehari hari kita tidak bisa terlepas dari ibadah yang mana itu adlah kewajiban kita sebagai makhluk kepada tuhannya. Dalam surah Adz Dzar...