Oleh:
Muhammad Ikhsan Attaftazani
Signifikansi terhadap agama memudar dengan adanya pertikaian di
berbagai belahan dunia. Sebut saja di Palestina yang sampai saat ini masih
terus digempur oleh zionis Israel. Warga Pelestina telah melakukan demonstrasi
damai di perbatasan Gaza, namun para tentara Israel tidak menghiraukannya.
Bahkan salah satu anak berusia 12 tahun tewas tertembak peluru di kepalanya oleh
tentara Israel. Kelompok pejuang Hamas menyayangkan terhadap sikap
negara-negara Arab dan Internasional yang bungkam terhadap Palestina.[1]
Apa yang akan terjadi pada tanah para nabi jika tidak ada yang peduli terhadapnya?
Sejauh mana peran agama, terutama Islam dalam mewujudkan perdamaian dunia?
Melihat konflik
yang terus berlangsung tanpa henti membuat kita berpikir apakah mungkin perdamaian
tercipta di dunia ini? untuk menjawab pertanyaan seperti itu, kita perlu
melihat jauh ke belakang pada masa nabi Muhammad Saw. hidup. Beliau diutus oleh
Allah sebagai seorang nabi dan rasul yang ditugaskan untuk menyiarkan agama
Islam. Sikap nabi terhadap orang yang menolak ajarannya tidak serta merta
memeranginya. Nabi tidak akan menyerang musuh sebelum mereka menyerang terlebih
dahulu.
Agama Islam sesuai
dengan artinya yaitu selamat, agama Islam membawa keselamatan dan perdamaian
kepada seluruh makhluk di muka bumi. Bahkan, Rasulullah Saw. mengajarkan kepada
umatnya untu belaku lemah lembut. Karena, jika tidak demikian tentunya orang-orang
yang belum mengenal Islam akan merasa ketakutan dan berlari menjauh.
Maka berkat rahmat
Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau
bersikap keras dan berjati kasar, tentulah
mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.[2]
Saat Rasulullah
mendakwahkan Islam di kota Makkah, beliau sering dihina, disakiti, bahkan
sampai mau membunuh. Namun, dengan sikap beliau bersabar dan berdoa supaya
mereka diberi hidayah. Atas sikapnya tersebut, tak jarang banyak dari kalangan
kaum kafir Quraisy yang memeluk agama Islam. Islam mengajarkan nilai-nilai
persaudaraan, perdamaian walaupu kepada seseorang yang pernah menyakiti kita.
Rasulullah Saw.
saat menjadi pemimpin di Madinah, membuat kesepakatan dengan masyarakat Madinah
dan kaumYahudi. Kesepakatan tersebut yang dikenal dengan nama Piagam Madinah
berisi tentang pemberian hak kepada kaum Yahudi untuk tetap tinggal di Madinah
dan adanya perlindungan bagi mereka. Rasulullah tidak mengusir mereka dari
kampung halamannya dan tidak pula memaksa untuk memeluk agama Islam.[3]
Konflik yang
terjadi antara umat Islam dan Yahudi seakan tidak pernah berhenti dan terus
berlangsung. Serangan demi serangan terus diluncurkan oleh tentara Israel
kepada warga Palestina. Sudah banyak korban yang meningggal dunia dan
kehilangan keluarganya. Hal ini membuat geram seluruh masyarakat Muslim di
dunia. Ambisi para zionis tidak pernah surut untuk menguasai Masjid al Aqsha
dengan menghalalkan segala cara. Jika kejadian ini terus berlangsung, bisa jadi
Palestina akan menjadi bagian dari Israel dan umat Islam akan kehilangan aset
berharga yaitu Masjid al Aqsha yang pernah menjadi kiblat bagi umat Islam.
Kasus-kasus
seperti ini tidak hanya terjadi pada Palestina saja, di Myanmar terjadi
pembantaian terhadap orang-orang Muslim Rohingya. Disana saudara-saudara kita
sedang berjuang mempertahankan Islam dan hidup mereka. Mereka membutuhkan
bantuan kita untuk menghadapi ujian berat dalam kehidupannya. Tugas bagi setiap
umat Islam untuk membantu saudaranya yang sedang mengalami kesusahan.
Tidaklah beriman seseorang diantara
kalian sehingga dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.[4]
Hadits di atas mengisyaratkan kepada kita agar mencintai dan
menyayangi saudara-saudara kita sesama Muslim. Bagi yang tidak melakukannya,
maka konsekuensinya adalah orang tersebut dianggap tidak beriman. Begitu
besarnya nilai kemanusiaan yang dibangun dalam Islam sampai-sampai disamakan
dengan iman seseorang. Jika manusia memenuhi perintah ini niscaya tidak akan
ada pertumpahan darah ataupun pertikaian.
Dengan demikian, kita harus melindungi saudara-saudara kita yang
sedang menderita akibat kekejaman yang dilakukan oleh zionis. Lalu, apa yang
akan kita lakukan?, Apakah kita harus pergi beramai-ramai ke Palestina dan Ikut
berjuang? Cara seperti itu tidaklah solutif dan dapat menimbulkan bencana yang
lebih besar. Akan tetapi, jika dibiarkan begitu saja maka zionis Israel akan
semakin brutal dalam menyerang Palestina. Beberapa upaya sudah ditempuh seperti
demonstrasi damai yang berujung pada penembakan seorang anak.
Dalam syari’at Islam, ketik melihat saudara kita dilecehkan bahkan
sampai diserang maka umat Islam akan menyatakan perang terhadapnya. Agama Islam
melarang untuk berperang jika tidak diserang terlebih dahulu oleh musuh. Maka setelah
mengetahui bahwa Israel yang menyerang terlebih dahulu, kita harus melawannya.
Kata melawan di sini tidak selalu diartikan perang, melainkan kita melawan
mereka dengan melakukan isolasi ataupun pembiokotan. Tentunya dengan cara
membawa kasus ini ke tingkat internasioanal dan memberikan mereka hukuman
karena telah melakukan kejahatan kemanusiaan.
Cara ini sangat relevan dengan zaman ini, karena dengan adanya
isolasi ataupun pemboikotan membuat Israel tidak memiliki akses terhadap dunia
luar. Dengan demikian, mereka tidak akan mendapatkan pasokan senjata dari
negara lain sehingga mereka tidak dapat melakukan penyerangan. Tidak akan
berjalan dengan sempurna cara ini jika tidak di dukung oleh negara-negara lain,
terutama negara seperti Amerika, China, Jepang, dan negara besar lainnya.
Perdamaian merupakan kebutuhan dalam hidup seluruh manusia dengan
lingkungannya. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka pastinya ada
hak-hak yang direnggut secara paksa oleh kelompok tertentu. Untuk memulihkan
keadaan menjadi damai dan tentram, maka perlu adanya solusi. Salah satu solusi
yang ditawarkan adalah melakukan perlawanan seperti isolasi atau pemboikotan
terhadap kelompok yang mengganggu kedamaian. Dengan langkah ini, akan memutus
mata rantai penyebab konflik yang meresahkan masyarakat.
[1] Sodikin, ”Bungkamnya Dunia terhadap
Palestina bikin Israel makin Jahat”, diakses dari https://www.islampos.com/bungkamnya-dunia-terhadap-palestina-bikin-israel-semakin-jahat-106977/, pada tanggal 30 September 2018 pukul
21.32.
[2] Q.S. ali
Imran (3): 159
[3]
Hussein Muhammad, Mengaji Pluralisme kepada Mahaguru Pencerahan, (Bandung:
Mizan, 2013), hlm. 56.
[4]
H.R. Imam Bukhari
Komentar
Posting Komentar